|
Siswa Diajak untuk Melihat Setiap Mata Pelajaran dengan Perspektif yang Tepat  Perhatikan perkataan seorang matematikawan I. M. Gelfand (Diambil dari buku The Unity of Mathematics, oleh Etingof, dkk. (editor) Birkhaeuser, 2006) : “ … Let us begin with the last question: What is mathematics? From my point of view, mathematics is a part of our culture, like music, poetry and philosophy. I talked about this in my lecture at the conference. There, I have mentioned the closeness between the style of mathematics and the style of classical music or poetry. I was happy to find the following four common features: first, beauty; second, simplicity; third, exactness; fourth, crazy ideas. The combination of these four things: beauty, exactness, simplicity, and crazy ideas is just the heart of mathematics, … .” Dari petikan di atas jelas bagi kita bahwa, dalam pandangan (persepsi) seorang matematikawan, matematika memiliki paling tidak empat fitur sebagaimana yang juga dimiliki oleh musik klasik maupun puisi, yakni bahwa matematika adalah sesuatu yang indah, matematika sesuatu yang sederhana (simpel), matematika adalah sesuatu yang pasti (eksak), dan matematika adalah sesuatu yang terkait dengan gagasan-gagasan “gila”. Mengapa para matematikawan menyenangi matematika? Jawabannya : karena persepsi mereka tentang matematika. Mereka melihat matematika dengan perspektif yang tepat. Karenanya, mereka mengenal ”ruh” (sepirit) matematika. Mereka melihat matematika sebagai the way of thinking. Karena para matematikawan melihat keindahan, kesederhanaan, kepastian dan ’kegilaan’ matematika, maka mereka menyenangi matematika. Jika saja para siswa mampu melihat matematika sebagaimana para matematikawan melihat matematika maka para siswa tentu akan menyenangi matematika dan menyikapi pelajaran matematika dengan antusiasme sebagai pelajaran yang menantang, menyenangkan, bermanfaat, dan lain sebagainya. Kenyataannya, persepsi yang dimiliki oleh para siswa tentang matematika bergantung pada persepsi yang dimiliki oleh guru. Oleh karena itu, tugas guru-guru matematika pertama-tama adalah meluruskan persepsi mereka sendiri tentang matematika dan selanjutnya membawa siswa-siswa mereka pada perspektif yang tepat tentang matematika, yakni agar para siswa melihat matematika sebagaimana yang dilihat oleh para matematikawan. Persepsi tentang matematika yang dimiliki oleh para guru juga sangat berpengaruh pada cara pembelajaran/pengajaran matematika. Cara mengajar matematika oleh para guru ternyata lebih ditentukan oleh persepsi mereka tentang matematika daripada oleh keyakinan mereka akan cara mengajar yang paling baik. Hal tersebut di atas tidak hanya berlaku pada pelajaran matematika. Para siswa perlu memiliki persepsi yang tepat tentang semua mata pelajaran. Mereka harus melihat setiap mata pelajaran itu sebagaimana pakar-pakar terkait melihat bidang-bindang kepakarannya masing-masing. |