Yuk, Belajar Mengolah Limbah…

IPAL Bantul-1
Kolam Fakultatif Aerator

β€œLimbah…?? iihh… jijik ah…!!”

Mungkin itu jawaban spontan kita ketika diajak untuk belajar mengolah limbah. Langsung terbayang tumpukan sampah, bau busuk, lalat, kotor, dan sebagainya. Apalagi jika yang dimaksud adalah limbah rumah tangga. Tidak terbayang dech…

Tapi tunggu dulu… jijik saja tidak akan membantu kita mengatasi masalah limbah ini. Lalu gimana dong??

Yuk ikut jalan-jalan dengan teman-teman kelas VII…

IPAL Web 1
Presentasi Pengelolaan IPAL DIY

Untuk belajar bagaimana menangani masalah limbah ini, Rabu, 20 Maret 2013 yang lalu siswa-siswi kelas VII SMP IT Alam Nurul Islam melaksanakan Kunjungan Edukasi ke Balai Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dibawah Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Sumber Daya Mineral DIY yang berada di Jl. Bantul Km 8, Sewon, Bantul, DIY.

IPAL Bantul ini merupakan unit pengolahan limbah khususnya limbah dari rumah tangga yang menampung limpahan limbah dari tiga kabupaten/kotamadya yaitu Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul. IPAL Bantul dibangun antara tahun 1991-1994 Β di atas lahan seluas 6,7 hektar dan menghabiskan dana sebesar 59 milyar rupiah. IPAL Bantul merupakan hasil kerjasama Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Jepang.

IPAL Web 2
Penjelasan proses pengolahan limbah

Limpahan limbah dari Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul disalurkan ke IPAL Bantul melalui jaringan pipa yang total panjangnya mencapai 100 kilometer lebih. Sebagian jaringan pipa tersebut telah ada sejak zaman penjajahan Belanda lho…! lama juga ya…!

Untuk mengolah limpahan limbah tadi, IPAL Bantul dilengkapi Gedung operasi & pemeliharaan, bak kontrol, rumah pompa, bak pengendap pasir, Bak pembagi, 4 kolam fakultatif, 2 kolam pematangan, 3 bak pengering lumpur, kanal penyalur air olahan, vacuum truk, dan berbagai fasilitas penunjang lainnya.

IPAL Web 3
Observasi bak kontrol pengolahan limbah

Lalu bagaimana cara mengolah air limbah tadi?

Untuk mengolah air limbah rumah tangga tersebut ada beberapa tahapan :

  1. Proses pengolahan limbah dimulai dari sambungan rumah dan jaringan pipa lateral yang mengalirkan air limbah menuju IPAL
  2. Air limbah masuk ke bak kontrol
  3. Air limbah diangkat dengan pompa tipe ulir pada rumah pompa dan mengalir ke bak pengendap pasir
  4. Pasir dan kerikil halus yang termuat dalam air limbah diendapkan.
  5. Bahan polusi organis dalam air limbah didegradasi (diurai) secara aerobic dan anaerobic
  6. Penjernihan dan penguraian coliform
  7. Lumpur yang terkumpul di dasar kolam disedot dengan alat penyedot dan dipindahkan ke bak pengering lumpur dengan vacuum truck.
  8. Air olahan tadi kemudian dialirkan ke sungai melalui kanal penyalur setelah kadar polutannya berada dalam ambang batas normal.
  9. Lumpur yang sudah kering dapat dimanfaatkan untuk produk tanaman.

Air yang telah diolah akan dialirkan ke sungai bedog tidak jauh dari IPAL. Haa…!! sungai bedog ??! Bukannya itu sungai yang mengalir melewati Kompleks Sekolah Alam Nurul Islam ?!! Benar. Ternyata sungai Bedog yang membelah Kompleks Sekolah Alam Nurul Islam mengalir terus ke selatan hingga sampai ke dekat IPAL Bantul tersebut. Wah.. kalau waktu outbond bermain arung jeram menyusuri sungai bedog, pasti bisa sampai ke IPAL juga tuh :).

IPAL Web 4

Selanjutnya setelah mengunjungi IPAL Bantul, siswa SMP IT Alam Nurul Islam menuju ke Musium Biologi untuk belajar tentang keanekaraaman hayati Indonesia. Musium Biologi terletak di Jl. Sultan Agung No. 22, Yogyakarta, tidak jauh dari jalan Malioboro. Musium ini diresmikan pada 20 september 1969 bertepatan dengan Dies Natalis Fakultas Biologi UGM. Namun baru dibuka untuk umum sejak 1 januari 1970. Musium yang didirikan atas gagasan dari Prof Drg RG Indrayana (alm.) dan Prof Ir Moeso Soeryiwinoto ini, ditujukan sebagai sarana edukasi bagi para pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum untuk mempelajari Biologi.

Bio Web 1
Mengamati contoh herbarium.
Ada yang sudah berusia puluhan tahun lho…

Musium Biologi UGM mengkhususkan koleksinya pada flora dan fauna.Β  Terdapat sekitar 3752 buah koleksi herbarium (awetan) dalam bentuk herbarium kering, herbarium basah, kerangka, serta fosil di dalam musium ini. Sebagaian besar koleksi berasal dari Indonesia, serta beberapa lainnya berasal dari luar negeri yang merupakan sumbangan dari para peneliti, dosen, serta masyarakat.

Pada ruang I dan II siswa dapat mengamati kupu-kupu dan serangga, ikan hiu, kuda laut, kerangka aves, kerangka kambing, berbagai rupa cangkang keong, musang, dan sebagainya yang telah dikeringkan dan diletakkan dalam rak-rak kayu berkaca. Selain itu, juga terdapat etalase-etalase yang berisi terumbu karang, kerangka manusia, kerangka simpanse, serta diorama komodo, katak, dan juga ular.

Bio Web 2
Awetan kupu-kupu

Selanjutnya di ruang III dan IV siswa dapat mengamati ratusan awetan hewan basah dan awetan tumbuhan basah pada stoples-stoples berukuran sekitar 500 ml yang disimpan dalam rak bertingkat. Di ruang V terdapat kerangka utuh kuda dan gajah. Di ruang VI dan VII terdapat Aves dan Penyu di mana dipamerkan awetan aves atau burung yang telah dibekukan dan awetan penyu atau kura-kura khas Indonesia. Dan di ruang VIII terdapat kotak-kotak kayu yang terbungkus kaca berisi satu jenis binatang atau sekelompok binatang berlatar habitat mereka yang diilustrasikan pada gambar tiga dimensi

Bio Web 3
Foto bareng gajah..
Coba tebak mana gajahnya ??

Puas belajar di musium biologi, selanjutnya siswa SMP IT Alam Nurul Islam menyempatkan mampir ke Taman Pintar sebelum akhirnya meneruskan perjalanan kembali ke sekolah. Alhamdulillah… walaupun matahari bersinar terik dan cuaca terasa panas pada hari itu, tapi tak menyurutkan semangat belajar para pembelajar ulung SMP IT Alam Nurul Islam.

TETAP SEMANGAT..!!! πŸ™‚ Β Β <ard>

admin

Menjadikan sekolah yang mampu menginspirasi siswa menjadi pembelajar ulung, mandiri, berkarakter islami dan berjiwa pemimpin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *