Teaching is Art

Setiap malam Ahad minggu ketiga setiap bulan kami mengadakan pertemuan KRISTAL di Mushola RT kami. Anggota pertemuan itu adalah anak-anak dari TK sampai SMA. Berbagai topik dan permainan kita perbincangkan dan lakukan. Suatu ketika kita berbincang tentang sekolah, beberapa pertanyaan muncul yang bisa dirangkum dengan satu pertanyaan, apakah sekolah itu menyenangkan? Dari 17 anak-anak yang hadir hanya satu yang menjawab menyenangkan.
Kalau kita ditanya apakah sekolah yang kita jalani menyenangkan, mungkin mayoritas kita akan menjawab sama dengan anak-anak tadi. Bapak-ibu mungkin bisa berbincang dengan anaknya tentang sekolahnya. Dari pengamatan dan pengalaman sendiri tentang sekolah yang sudah masuk ke bawah sadar kita, mungkin kita bertanya-tanya adakah sekolah yang menyenangkan bagi anak-anak. Sekolah yang anak-anak merasa rindu untuk segera mereka datangi setiap pagi, sekolah yang masuk dalam mimpi-mimpi mereka karena kegiatannya membahagiakan mereka, sekolah yang ketika anak-anak pulang darinya terlihat wajah-wajah ceria tanpa beban karena semuanya sudah kelar di sekolah tidak ada lagi PR yang membebani.

Membuat sekolah membahagiakan bagi anak-anak perlu kerjasama dan kreatifitas para pemangku sekolah dari guru, siswa, orang tua siswa, dan pihak lain. Alam sudah menyediakan media pembelajaran yang menunggu tangan-tangan kreatif untuk memanfaatkannya. Salah satu contohnya adalah apa yang dilakukan oleh sekolah ini. Pada hari kamis, tanggal 7 Februari SMPIT Nurul Islam Yogyakarta kelas 8 mengadakan kegiatan yang mereka namai City Adventure. Kegiatan ini dimulai pagi hari. Anak-anak berkumpul di terminal Jombor. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok dengan rute dan tujuan yang berbeda-beda. Tujuan mereka antara lain: Museum Pendidikan, Museum Jenderal Sudirman, Benteng Vredeburg dll. Sarana transportasi yang mereka gunakan adalah bis umum yang mengelilingi kota Jogja dan sekitarnya, Trans Jogja. Mereka tidak diijinkan membawa alat komunikasi berbasis internet, mereka hanya boleh membawa HP jadul yang hanya bisa untuk SMS dan menelpon dalam keadaan darurat. Setiap kelompok dibekali dengan gambar tempat tujuan mereka. Setiap anak hanya boleh membawa uang sebesar Rp. 30.000.

Selain itu mereka juga diminta untuk mencari beberapa informasi yang sudah disiapkan oleh guru mereka terkait dengan tempat yang mereka datangi. Pengalaman menggunakan transportasi umum dan mengasah kemampuan berkomunikasi siswa menjadi salah dua skill yang diasah dalam kegiatan ini. Kegiatan ini diakhiri dengan praktik menyablon kaos yang sudah mereka siapkan sebelumnya dengan desain yang mereka buat sendiri. Kegiatan menyablon kaos ini dilakukan di salah satu tempat usaha sablon yang ada di Nogotirto. Tempatnya berada di tengah-tengah permukiman penduduk sehingga anak-anak harus bertanya ke penduduk sekitar untuk menemukannya. Selesai menyablon anak-anak harus mencari masjid yang sudah ditentukan sebagai finish terakhir mereka.

Nampak wajah-wajah lelah mereka, tapi terselip juga senyum ketika mereka menenteng kaos hasil sablonan mereka yang belum kering. Malamnya mereka bermimpi ke Karimun Jawa.

oleh : Titis Setyabudi (Wali siswa kelas 8)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *