Blangkon merupakan salah satu penutup kepala yang biasanya dipakai oleh laki-laki sebagai salah satu aksesoris dalam pakaian adat jawa terutama di Yogyakarta. Asal mula nama “blangkon” diambil dari kata blangko, yang berarti sesuatu yang sudah dicetak siap pakai. Blangkon merupakan salah satu hasil perkembangan dari ikat kepala yang disebut iket, di mana iket lebih banyak dipakai rakyat biasa sementara blangkon identik dengan kalangan bangsawan keraton. Salah satu tempat sentra pembuatan Blangkon yaitu di sekitar SMP IT Alam Nurul Islam, tepatnya di daerah Kampung Beji di Sidoarum, Kapanewon Godean, menjadi kesempatan berharga yang dimanfaatkan sekolah untuk mengajak siswa belajar langsung dari para perajin Blangkon.
Ada sesuatu yang berbeda di sekitar Salyo pada minggu pertama bulan Agustus tahun 2026. Bukan hanya suara alunan Almatsurat dan tilawah yang terdengar setiap pagi, tetapi juga aroma malam batik, bunyi air pewarna, serta suara riuh rendah semangat para anak-anak yang sedang berusaha membuat karya budaya mereka sendiri. Selama lima hari penuh, siswa kelas VIII diajak untuk mengikuti setiap tahapan pembuatan batik hingga blangkon, sebuah perjalanan yang panjang dan mengajarkan banyak hal selain keterampilan tangan.
Hari Pertama: Mengenal Jiwa Batik
Perjalanan dimulai pada Senin, 3 Agustus 2026. Setelah memulai dengan Almatsurat, tilawah, dan pengarahan bersama usth Raras, para siswa mendapatkan materi yang dalam tentang batik serta filosofi yang terkandung di baliknya dari narasumber ahli. Bukan hanya teori, siswa juga diberi kesempatan langsung membuat cetakan batik yang nantinya akan menjadi dasar motif blangkon mereka. Semangat itu terus berlanjut hingga siang hari, di mana semua ustadz dan ustadzah bersama-sama membantu anak-anak menyelesaikan motif batik yang telah mereka buat sendiri.
Hari Kedua: Saatnya Membuat Karya dengan Cap dan Warna
Selasa, 4 Agustus 2026, adalah hari yang penuh fokus. Siswa menghabiskan hampir empat jam penuh, dari pukul 08.00 hingga 11.45, untuk fokus pada proses pengecapan , saat dimana desain yang sudah dirancang mulai terlihat jelas dan nyata pada kain. Setelah beristirahat dan melaksanakan shalat subuh, kegiatan dilanjutkan dengan proses pewarnaan secara bersama-sama di bawah bimbingan Usth Umi. Di tempat itu, kain putih yang mulus perlahan berubah, dipenuhi dengan warna-warna yang akan menjadi ciri khas blangkon Salyo.
Hari Ketiga: Nglorot dan Literasi Budaya
Rabu, 5 Agustus 2026, para siswa mempelajari salah satu tahap yang sangat khas dalam proses membatik, yaitu nglorot. Tahap ini adalah langkah untuk melepaskan lilin atau malam dari kain, sehingga motif batik dapat terlihat dengan sempurna. Proses ini membutuhkan kesabaran dan ketelitian, jadi dilakukan secara bertahap mulai dari pagi sampai siang. Pada siang hari, kegiatan diisi dengan sesi literasi tentang blangkon, mengajak siswa memahami sejarah, makna yang terkandung, serta nilai budaya yang ada dalam setiap bentuk blangkon Jawa.
Hari Keempat: Belajar Langsung dari Ahlinya
Rasa ingin tahu para siswa mencapai puncaknya pada hari Kamis, 6 Agustus 2026. Sebagai gantinya belajar di kelas, siswa kelas VIII diajak untuk menjelajahi kelas ke pusat produksi blangkon, di mana mereka dapat melihat langsung cara para pengrajin berpengalaman bekerja. Pengalaman belajar yang berlandaskan konteks membuat para siswa menyadari bahwa pelajaran yang mereka terima di sekolah nyata dan terus berkembang dalam kehidupan masyarakat. Setelah pulang dari sentra blangkon, para siswa menerima penjelasan terakhir sebagai persiapan sebelum memasuki tahap terakhir yaitu membuat blangkon sendiri.
Hari Kelima: Blangkon Karya Sendiri Pun Terwujud
Jumat, 7 Agustus 2026, menjadi hari yang sangat dinantikan. Setelah melewati beberapa proses yang memakan waktu sejak Senin, para siswa akhirnya bisa memasuki tahap pembuatan blangkon secara lengkap, dengan didampingi oleh semua ustadz dan ustadzah hingga menjelang sore hari. Rasa bangga terlihat jelas dari wajah-wajah kecil yang melihat kain hasil karyanya sendiri berubah bentuk menjadi blangkon yang siap dipakai, ini adalah bukti nyata bahwa proses belajar yang bermakna selalu meninggalkan jejak yang membuat orang merasa bangga. Lebih dari Sekadar Proyek Sekolah, Program PJBL-LARAS menunjukkan bahwa pembelajaran melalui proyek bisa menjadi cara yang menghubungkan pengetahuan ilmu pengetahuan dengan pelestarian budaya bangsa. Siswa tidak hanya belajar tentang teori batik dan blangkon, tetapi juga secara langsung mengalami setiap tahap prosesnya, mulai dari membuat desain cetakan, mencocokkan warna, memberi warna, hingga bertemu langsung dengan para perajin di pusat produksi blangkon. Cara belajar yang membantu menyadarkan kita agar menyayangi warisan budaya sejak kecil, sekaligus melatih kesabaran, ketelitian, dan kemampuan bekerja sama.









