Penuh Semangat, Kontingen SMP IT Alam Nurul Islam Sukses Ikuti Jambore SASS Nusantara ke-3

SMP IT Alam Nurul Islam atau sering disebut juga sebagai Sekolah Alam Yogyakarta kembali menorehkan cerita seru lewat keikutsertaan di Jambore SASS Nusantara ke-3. Bagi kami, kegiatan ini bukan sekadar berkemah dan mengikuti rangkaian acara. Jambore menjadi kesempatan untuk mengasah keterampilan hidup (life skills), belajar bekerja sama, sekaligus mengenal lebih dekat pentingnya kepedulian terhadap lingkungan, bersama peserta dari berbagai Sekolah Alam dari seluruh Indonesia.

Selama empat hari, kami mendapat kesempatan untuk mencoba hal-hal baru. Bertemu banyak orang, bekerja sama sebagai satu kontingen, dan tentunya mengumpulkan cerita yang akan sulit dilupakan.

Upacara Pemberangkatan: Tidak Hanya Membawa Nama Pribadi, Namun Juga Nama Baik Keluarga dan Almamater

Kami berangkat sebagai perwakilan sekolah dengan membawa rasa antusias sekaligus penasaran. Empat hari ke depan sudah menunggu dengan berbagai kegiatan yang cukup padat. Ada kegiatan yang membuat kami harus berani mencoba, ada yang membutuhkan ketelitian, dan ada juga yang mengharuskan kami bekerja sama dengan baik. Kami tidak tahu persis seperti apa yang akan kami hadapi, tetapi justru itu yang membuat semuanya terasa lebih seru.

Sebagai kontingen SMP IT Alam Nurul Islam, kami menyadari bahwa ada nama sekolah yang turut kami bawa ke mana pun kami melangkah. Seperti yang disampaikan oleh ibu kepala sekolah, ustadzah Zakiyah, sewaktu melepas kami di upacara pemberangkatan, setiap sikap, perkataan, dan tindakan kami menjadi bagian dari cara orang lain mengenal sekolah yang kami wakili. Karena itu, perjalanan ini bukan hanya tentang menunjukkan kemampuan dan berkompetisi, tetapi juga tentang belajar bertanggung jawab, menjaga sikap, dan menghargai orang-orang yang kami temui. Kami berangkat dengan membawa nama almamater, doa keluarga, serta harapan untuk menjalani setiap pengalaman dengan sebaik-baiknya. Kami ingin pulang bukan hanya dengan hasil yang membanggakan, tetapi juga dengan cerita, pelajaran, dan kenangan yang akan tetap melekat bahkan setelah jambore usai.

Hari pertama menjadi awal dari perjalanan kami. Setelah tiba dan melakukan registrasi, kami mulai mengikuti rangkaian kegiatan. Salah satunya adalah Siswa Tanggap Bencana (SALAM Aid). Di kegiatan ini, kami belajar bagaimana menghadapi situasi kebencanaan dan pentingnya tetap tenang serta sigap ketika berada dalam kondisi yang tidak terduga. Malam harinya, kami mengikuti Inspiring Maestro sebelum akhirnya beristirahat dan mempersiapkan diri untuk hari berikutnya.

Survival Skill Competition: Di Balik Setiap Tantangan, Ada Pelajaran untuk Bertahan

Hari kedua menjadi salah satu hari yang paling kami ingat. Bukan hanya karena jadwalnya yang padat, tetapi karena kami harus menghadapi Survival Skill Competition. Berbeda dengan perlombaan lainnya, kali ini kami dilepas ke area hutan bersama Pendamping Aktivitas Regu (PAR) dari sekolah masing-masing.

Begitu masuk ke dalam hutan, kami mulai mengikuti rute yang sudah ditentukan. Kami harus cukup teliti memperhatikan arah agar tidak salah jalan. Beberapa kali kami harus memastikan kembali jalur yang akan kami ambil. Kami tidak selalu langsung tahu harus ke mana atau apa yang akan kami hadapi selanjutnya. Tetapi, justru rasa tidak tahu itulah yang membuat perjalanan terasa lebih menegangkan sekaligus menarik.

 

Semakin jauh berjalan, rasa lelah mulai terasa. Namun, kami tidak bisa hanya memikirkan diri sendiri. Kami harus memastikan semua anggota tetap bersama dan tidak ada yang tertinggal. Ketika ada yang mulai kesulitan, kami saling membantu. Ketika mulai bingung, kami berdiskusi untuk menentukan langkah berikutnya. Dari situ kami belajar bahwa kegiatan ini bukan soal siapa yang paling cepat sampai di garis akhir, tetapi juga tentang bagaimana kami bisa menyelesaikannya bersama.

Survival Skill Competition juga membuat kami melihat arti kerja sama dengan cara yang berbeda. Dalam keadaan seperti itu, kami belajar bahwa kemampuan satu orang saja tidak cukup. Kami membutuhkan satu sama lain untuk saling mengingatkan, membantu, dan memastikan semua anggota bisa terus berjalan bersama. Hal-hal sederhana yang kami lakukan selama perjalanan ternyata memiliki arti yang lebih besar ketika kami menghadapinya sebagai sebuah tim.

Capek? Jelas. Tapi justru di situlah serunya. Kami tidak hanya berjalan dari satu titik ke titik lainnya, tetapi benar-benar merasakan bagaimana rasanya menghadapi sesuatu bersama-sama. Ada kepanikan, kebingungan, teriakan penyemangat, sampai tawa yang muncul di tengah perjalanan. Mungkin saat itu kami hanya ingin segera menyelesaikan rute, tetapi setelah dipikir kembali, justru momen-momen itulah yang membuat perjalanan terasa berharga. Ketika akhirnya berhasil keluar dari hutan dan menyelesaikan seluruh rangkaian, rasanya lega sekaligus puas. Perjalanan singkat di dalam hutan itu, akhirnya menjadi salah satu bagian yang paling membekas bagi kami.

SASS Competition: Pemenang Tidaklah Selalu Mereka yang Membawa Pulang Medali atau Juara

Hari ketiga menjadi kesempatan bagi kami untuk menunjukkan hasil latihan yang telah kami persiapkan untuk SASS Competition. Beberapa cabang lomba yang kami ikuti di antaranya, Axe Throwing, Knife Throwing, Archery, Tahfidz, CCA, serta High Rope. Kami mengirimkan perwakilan di setiap cabang untuk memberikan kemampuan terbaik yang kami miliki.

Setiap cabang memiliki cerita dan hasil yang berbeda. Di Knife Throwing, misalnya, teman kami Adriano dan Hayfa, sempat berhasil melemparkan pisau dengan baik saat sesi percobaan, tetapi belum berhasil meraih poin saat kompetisi. Begitu pula di Axe Throwing, Azka dan Jihan. Meski hasil akhirnya belum membawa kami ke tahap berikutnya, pengalaman mencoba dan berkompetisi secara langsung tetap menjadi bagian penting dari perjalanan kami.

Pada Archery, perwakilan kami, Naufal dan Rima, berhasil memperoleh poin yang cukup tinggi namun berselisih tipis dengan peringkat di atasnya sehingga tidak berkesempatan untuk melanjutkan ke babak berikutnya. Sementara itu, di High Rope, Richi sebagai perwakilan regu putra berhasil mencatatkan waktu yang cukup memuaskan meski belum cukup untuk membawa kami lolos. Rara juga sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkan ketakutan dalam dirinya ketika menghadapi tantangan ini. 

Di Tahfidz, meskipun Barin sebagai perwakilan regu putra belum lolos, namun Aya sebagai perwakilan regu putri kami berhasil mencapai babak final. Akan tetapi pada hasil akhir, kami belum menjadi juara. Sementara itu, dua regu yang mewakili SMP IT Alam Nurul Islam dalam Cerdas Cermat Agama (CCA), regu putra diwakili oleh Afza, Kenzie, dan Sahlan sedangkan regu putri oleh Sofia, Nadia, dan Nasyama sama-sama berhasil melaju ke final. Setelah melalui berbagai tahapan sampai di babak final akhirnya regu putra berhasil meraih juara 1. Kemenangan tersebut menjadi salah satu hasil dari kerja keras yang telah dilakukan dan tentunya menjadi kebanggaan bagi kontingen kami. Setiap perwakilan memiliki prosesnya masing-masing, dan kami bangga sudah berani tampil serta memberikan kemampuan terbaik di tengah persaingan.

Dari SASS Competition, kami belajar bahwa menjadi pemenang tidak selalu berarti membawa pulang medali atau gelar juara. Setiap hasil tetap menjadi bagian dari proses yang kami jalani, baik ketika kami berhasil mencapai target maupun ketika hasilnya belum sesuai harapan. Yang terpenting adalah keberanian untuk mencoba, memberikan kemampuan terbaik, dan terus belajar dari setiap pengalaman. Karena pada akhirnya, setiap langkah yang kami lalui selama kompetisi memiliki cerita dan arti tersendiri. Pemenang adalah dia yang mampu mengalahkan dirinya, rasa ketakutannya, pesimismenya, dan versi lama dari masa lalunya.

Anjangsana: Jaringan Persahabatan Lintas Daerah dan Negara

Dalam kegiatan Jambore ini, kami tidak hanya belajar tentang kerjasama tim dan juga kompetisi. Satu hal yang sangat berkesan bagi kami adalah memulai persahabatan dengan rekan-rekan Sekolah Alam dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan sampai dengan teman-teman yang berasal dari Malaysia. Kami merasa semakin dekat karena menjalani aktivitas keseharian bersama. Kami merasakan bahwa ternyata ada persamaan di antara kami ketika menjadi siswa yang belajar di Sekolah Alam. Terasa sekali ketika kami bercerita dan bercengkrama bersama mereka, berbagi pengalaman dan juga cerita kami masing-masing di sekolah dengan kekhasan yang berbeda. 

Suasana Jambore ini juga membuat kami belajar keluar dari zona nyaman. Kami yang biasanya lebih banyak diam mau tidak mau harus mulai membuka diri, menyapa orang baru, dan berani memulai percakapan dengan teman-teman dari berbagai daerah. Pada gelaran Jambore kali ini banyak sekali teman-teman baru yang selalu menyapa kami di setiap kesempatan, sehingga kami pun juga melakukan hal tersebut kepada teman-teman yang lain. Bahkan yang sangat berkesan bagi kami adalah ketika kami menjadi sangat dekat dengan teman-teman dari Malaysia. Mereka yang tergabung dalam Kadet Remaja Sekolah (KRS) menjadi perwakilan dari negaranya untuk mengikuti Jambore SASS Nusantara di tahun ini. 

Kami selalu bercengkrama dan bercanda setiap ada kesempatan, berbagi alamat sosial media, bahkan saling berbagi souvenir dari daerah masing-masing. Dari pengalaman anjangsana ini kami menemukan makna. Ketika kita berani melihat dunia lebih luas, ada banyak sekali hal yang belum kita ketahui. Sehingga jika nanti ada kesempatan maka kami harus bertebaran di muka bumi dan kembali mencari sahabat-sahabat yang bahkan belum pernah kami temui sebelumnya.

Art Performance: Dari Jogja Istimewa untuk Indonesia 

Malam ketiga sekaligus malam terakhir Jambore SASS Nusantara ke-3 menjadi salah satu momen yang berkesan bagi kami. Pada malam itu, kami mendapat kesempatan untuk tampil dalam kegiatan Art Performance, sebuah panggung untuk menampilkan kreativitas sekaligus memperkenalkan budaya dari daerah masing-masing. Sebagai kontingen dari SMP IT Alam Nurul Islam, kami membawa penampilan yang mengangkat filosofi Tanah Nusantara dan memperkenalkan Yogyakarta melalui lagu serta tarian Jogja Istimewa.

Namun, penampilan yang disaksikan malam itu tidak hadir begitu saja. Ada proses persiapan panjang yang kami lalui sebelum akhirnya berdiri di hadapan peserta jambore. Berbagai latihan dan persiapan kami jalani agar setiap bagian pertunjukan dapat tersampaikan dengan baik. Tentu, ada usaha dan kerja sama yang dibutuhkan untuk menyatukan setiap bagian menjadi satu penampilan yang utuh. Semua proses itu menjadi bagian penting dari perjalanan kami sebelum tiba pada malam yang telah ditunggu-tunggu.

Pertunjukan yang kami bawakan memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar rangkaian gerakan dan dialog. Melalui filosofi Tanah Nusantara, kami ingin menyampaikan pesan tentang persatuan di tengah keberagaman. Hal ini tergambar dalam dialog yang menceritakan berkumpulnya para pemuda dengan semangat kebersamaan, sekaligus menegaskan bahwa keberhasilan bukanlah hasil kerja seorang pemimpin saja, melainkan buah dari usaha, ketulusan, dan kontribusi semua pihak. Pesan tentang gotong royong, pentingnya menjaga tali silaturahmi, serta rasa syukur atas keberhasilan bersama menjadi nilai yang kami bawa melalui pertunjukan ini.

Sebagai penutup, kami membawakan lagu dan tarian Jogja Istimewa. Bagian ini menjadi kesempatan bagi kami untuk memperkenalkan Yogyakarta, daerah asal kami, kepada peserta jambore dari berbagai wilayah, termasuk teman-teman dari Malaysia. Melalui penampilan tersebut, kami ingin menunjukkan kebanggaan terhadap budaya daerah sekaligus berbagi cerita tentang keistimewaan Yogyakarta kepada orang-orang yang kami temui dalam jambore. Di tengah keberagaman peserta yang hadir, kami belajar bahwa setiap daerah memiliki identitas dan kekayaan budaya yang patut dikenal serta dihargai.

Alhamdulillah, penampilan kami dapat berjalan dengan sukses dan mendapat tepuk tangan dari teman-teman yang menyaksikan. Sambutan tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri setelah melalui persiapan yang panjang. Ada rasa lega dan bangga karena usaha yang kami lakukan bersama akhirnya dapat ditampilkan dengan baik. Momen itu menjadi salah satu kenangan yang melengkapi pengalaman kami pada malam terakhir jambore. Dari Jogja yang istimewa, kami berbagi cerita untuk Indonesia.

Briefing Hari Keempat: Mengukir Makna dari Sebuah Perjalanan

Hari keempat menjadi pagi terakhir kami di Jambore SASS Nusantara ke-3. Kami memulainya dengan qiyamul lail, dilanjutkan salat Subuh dan Al-Ma’tsurat. Setelah itu, kami melakukan stretching sebelum sarapan dan membereskan kembali perlengkapan yang sudah menemani kami selama beberapa hari. Rasanya sedikit berbeda ketika kami sadar bahwa pagi itu adalah pagi terakhir yang akan kami habiskan bersama sebagai satu kontingen.

Di pagi hari terakhir ini, Ustadz Taufik dan Ustadzah Umi selaku Pendamping Aktivitas Regu (PAR) mengajak kami untuk melakukan briefing dan evaluasi penutupan. Setiap kami diharuskan untuk mengungkapkan isi hati dan bercerita tentang pengalaman paling berkesan selama empat hari di lokasi Jambore. Beberapa teman bercerita tentang kenalan barunya, beberapa juga mengungkapkan tentang pengalaman baru yang didapatkan, dan banyak dari kami menyampaikan bahwa empat hari ini adalah salah satu momen di fase kehidupan yang tak akan terlupakan.

Tanpa terasa, tibalah saatnya kami mengikuti apel penutupan sekaligus penyerahan hadiah. Setelah melewati berbagai kegiatan, perlombaan, dan tantangan selama tiga hari sebelumnya, suasana penutupan terasa sedikit berbeda. Ada rasa lega karena seluruh rangkaian telah kami lalui, tetapi di sisi lain ada juga rasa berat karena perjalanan yang selama ini kami jalani bersama akhirnya sampai di penghujung cerita. Setelah semua yang kami lewati, rasanya sulit untuk menganggap empat hari ini hanya sebagai sebuah kegiatan biasa.

Saat melihat kembali apa yang sudah kami lewati, rasanya empat hari itu berlalu begitu cepat. Dari menyusuri hutan dalam Survival Skill Competition, mencoba berbagai perlombaan, mengikuti kegiatan bersama kontingen lain, sampai sekadar bercanda dan beristirahat bersama, semuanya kini berubah menjadi kenangan. Banyak hal yang awalnya terasa biasa saat kami jalani, justru terasa lebih berarti ketika semuanya sudah hampir selesai.

Kami mungkin datang sebagai perwakilan dari sekolah, tetapi kami pulang membawa lebih dari sekadar pengalaman mengikuti jambore. Ada cerita yang kami buat bersama, rasa lelah yang kami bagi, dan banyak momen kecil yang mungkin suatu hari nanti akan kami rindukan. Kami juga membawa pengalaman yang mungkin tidak akan kami dapatkan jika tidak menjalaninya bersama-sama. Semua itu menjadi bagian dari cerita yang akan kami ingat sebagai salah satu pengalaman berharga selama menjadi bagian dari SMP IT Alam Nurul Islam.

Jambore SASS Nusantara ke-3 akhirnya selesai. Empat hari yang awalnya terasa panjang ternyata berlalu begitu cepat, meninggalkan begitu banyak cerita di belakangnya. Bagi kami, empat hari itu bukan sekadar empat hari yang berlalu. Ada bagian dari perjalanan ini yang akan tetap kami bawa pulang. Empat hari yang penuh arti bagi hidup kami, sehingga terasa seakan-akan seperti kami berangkat sebagai perwakilan sekolah namun pulang sebagai sebuah keluarga.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kami dalam Jambore SASS Nusantara ke-3 ini. Terima kasih kepada sekolah yang telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk menjadi bagian dari kontingen SMP IT Alam Nurul Islam, satu-satunya Sekolah Alam Yogyakarta yang mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta pada gelaran Jambore SASS Nusantara ke-3. Terima kasih kepada Ayah, Bunda serta keluarga yang telah memberikan izin serta dukungan setiap harinya, sehingga kami mampu melewati proses ini. Terima kasih kepada para guru dan pembimbing yang telah mengajarkan kami untuk mempersiapkan diri menghadapi empat hari yang penuh makna ini. Terima kasih untuk teman-teman kontingen SMP IT Alam Nurul Islam, yaitu Aya, Rima, Sofia, Nadia, Hayfa, Jihan, Nasyama, Rara, Azka, Richi, Afza, Kenzie, Naufal, Barin, Adriano, dan Sahlan, yang telah berjuang bersama, melewati suka dan duka, serta saling menjaga satu sama lain, terkhusus kepada ustadz Taufik dan ustadzah Umi yang telah mendampingi dan membina kami selama 4 hari ini. Kebersamaan inilah yang membuat perjalanan kami menjadi begitu berarti, hingga akhirnya kita dapat pulang dengan membawa banyak cerita, pengalaman, dan rasa bangga. Kami pamit undur diri. Terimakasih, Salyo, Sekolahku Inspirasiku!

(ana-at)

Tinggalkan komentar

Post Lainnya