Catatan 2565

Bis Jogja menuju Magelang, carriel 60 L, menjadi pengalaman yang menarik 12 siswa SMP didampingi 3 guru. Berangkat mendaki Gunung Prau di Kawasan Dataran tinggi Dieng, Kab. Wonosobo.
Kendaraan umum dipilih dengan pertimbangan memberikan banyak pengalaman yang akan menjadikan guru dalam kehidupan mereka sendiri. Mungkin ini salah satu bentuk pembelajaran berbasis resiko. Anak dikenalkan dengan resiko, sehingga mereka belajar dari pengalaman. Menguatkan “imun”, bukan men”steril”kan perjalanan.

Rute Jogja-Magelang, yang kemudian disambung dengan Bis Umum ukuran sedang menuju Wonosobo. Jarak tempuh 3 jam perjalanan dari Jogja, cukup melelahkan. Antusias mendaki dengan sejuta rasa penasaran yang terlintas, menjadikan lelah tak lagi dirasakan. Apalagi dikanan kiri jalur Magelang – Wonosobo diapit 2 Gunung yang indah nan gagah. Sindoro Sumbing, membuat mata takjub.

Teman perjalanan, memberi bangku kepada ibu yang menggendong bayi, hormat kepada orang tua jompo, mengobrol dengan penumpang lain, bercanda dengan anak kecil yang menemani ibunya untuk pulang ke kampung halaman, menjadi pengalaman yang nyata bagi mereka, bukan hanya teori norma Kesopanan dalam mata pelajaran PPKn semata.

Menjadi unik juga, ketika anak anak belajar budaya Wonosobo dengan bahasa Jawa dialek Ngapak yang khas. Memperkaya khasanah budaya, mengerti langsung sehingga mampu bersikap bijak dalam keberagaman. Itu ciri kebhinekaan bangsa kita.

Perjalanan Wonosobo menuju Dieng pun semakin menarik. Kabut tipis kadang menebal, jalan berkelok sesekali menanjak dan menurun tajam. Tanaman hortikultur menjadi penghias mata. Memang tanaman jenis sayuran cocok berada di dataran tinggi Dieng yang memiliki rata-rata ketinggian 2000 mdpl dengan suhu rata-rata 16-20° pada siang hari dan 6-12° di malam hari. Bahkan bisa mencapai minus ketika kemarau tiba. Saat itu juga, akan bisa kita jumpai upas atau orang Dieng menyebutnya mbun racun karena bisa menyebabkan tanaman rusak.

Dari beberapa sumber, Dieng berasal dari bahasa Kawi, DiHyang, “Di” artinya tempat, “Hyang” berarti Dewa. Artinya, tempat para dewa. Tak heran jika Dieng mempunyai banyak Candi, sebagai pemujaan para Dewa. Dari Candi Arjuna, Gatotkaca, Bima, Sembadra dan juga Dwarawati.

Setelah perjalanan total 6 jam dari Jogja, Anak-anak sampai di Basecamp Patak Banteng. Bertemu dengan ribuan pendaki lain, dari berbagai daerah, kalangan, usia, jenis kelamin, pendidikan dan macam sebagainya. Memberi kesan tersendiri bagi anak-anak. Inilah kehidupan para pendaki. Saling menghormati dan menghargai, mengembara bersama di gunung dalam waktu yang relatif singkat.

Sebelum pendakian, briefing tentang tujuan disampaikan kepada anak-anak. Pendakian bukan bertujuan menaklukan alam. Alam punya garisnya sendiri, dan manusia ditugasi untuk menjaganya, mengolahnya, memakmurkannya. Bukan menaklukkannya. Manusia sebagai Khalifah, punya tugas untuk itu semua.
Tak lupa, sebelum memulai pendakian, Anak-anak berdoa agar perjalanan diberkahi Alloh SWT.

Pendakian dimulai pukul 16.00 dengan waktu tempuh 5 jam. Berjalan santai, sesekali meluangkan waktu untuk istirahat dan berdoa. Diawal jalur pendakian, buah khas Dieng pun dapat dilihat langsung. Carrica, sejenis pepaya yang biasa diolah menjadi manisan, oleh-oleh khas Dieng. Lereng lereng yang dijadikan lahan pertanian tertata rapi. Tegur sapa “monggo mas”, ” “Permisi mbak”, ” semangat pak”. Atau sekedar candaan pemberi harapan palsu “sebentar lagi sampai mbak”, padahal baru saja tanjakan pertama.

Gunung Prau relatif mudah dijangkau, pun pendaki pemula. Memiliki ketinggian 2565 mdpl dengan waktu tempuh normal 4 jam pendakian. Dinamakan Gunung Prau karena jika dilihat dari kejauhan, mirip seperti perahu yang terbalik. Puncaknya yang banyak sekali gundukan padang rumput, menjadikan Gunung Prau juga dikenal dengan Bukit Teletubies. Pemandangan gunung Sindoro, Sumbing, Slamet dan beberapa gunung yang lebih rendah menjadi latar belakang puncak Gunung Prau. Keindahan sunrise saat cerah adalah bonus dari perjalanan.

Selama pendakian, anak-anak berhadapan dengan cuaca hujan grimis, kabut, suhu dingin yang bisa mengakibatkan hypotermia. Tapi ini salah satu bentuk pembelajaran berbasis resiko, selama semua sudah dipersiapkan, sudah diantisipasi, kendala pasti bisa teratasi. Itu juga gunanya anak-anak melakukan kajian, literasi kecil-kecilan pra pendakian untuk menambah wawasan mereka. Hukum sebab akibat, jika begini nanti begitu, jika begitu nanti akan seperti ini, maka kita harus begini dan begitu, dan seterusnya.

Ada momen pembelajaran yang menarik juga saat pendakian, satu diantara mereka merasa kedinginan. Jika terlambat diantisipasi, mungkin akan mengalami hypotermia. Namun segera semua tim cekatan untuk memberi bantuan agar tidak semakin parah. Ini perjalanan tim. Setiap anggota tim punya peran dan kontribusi, saling memahami, mengenali, membantu. Tafahum, ta’aruf, taawun. Teori dimiliki, praktek dimengerti, kerjasama dijunjung tinggi.

Alhasil, anak-anak mengambil hikmahnya masing-masing, belajar dari perjalananya, begitu juga guru pendamping pun belajar dari perjalanan ini. Bukankah alam semesta ini sebagai sarana belajar bagi kita. Seperti pepatah Minang “Alam takambang jadi guru”.

Grup WA #TetepMuncak
Gunung Prau, Dieng Kab. Wonosobo
23-24 Desember 2019
Nur Rahmad S

admin

Menjadikan sekolah yang mampu menginspirasi siswa menjadi pembelajar ulung, mandiri, berkarakter islami dan berjiwa pemimpin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *