It was not only a city tour, but an amazing city adventure!

Sebuah perjalanan di dalam kota dalam rangka pembelajaran atau biasa kita sebut dengan istilah city tour atau field trip atau outing (sekolah kami menyebutnya) tentunya sudah tidak asing lagi bagi kalangan pelajar maupun pendidik. Para pelajar bersama dengan guru pendamping melakukan sebuah perjalanan menggunakan transportasi bus pariwisata menuju ke beberapa lokasi baik berupa museum, lembaga pendidikan, lembaga pemerintah, objek wisata, swasta, kuliner, dan lain sebagainya. Pembelajaran dengan melakukan perjalanan seperti ini tentunya lebih menyenangkan dibandingkan dengan kegiatan belajar di dalam kelas atau pun di lingkungan sekolah. Selain, mendapatkan ilmu yang tidak dapat diperoleh dari pembelajaran di dalam kelas, para pelajar juga akan mendapatkan pengalaman dan keasyikan tersendiri karena pergi bersama dengan teman.
Namun, bagaimana jika perjalanan tersebut dilakukan tanpa pendamping? Tanpa bus pariwisata?
Mampukah anak – anak bepergian secara mandiri? Amankah transportasi umum bagi anak – anak?
Pertanyaan tersebut terjawab dengan diadakannya city adventure oleh SMPIT Alam Nurul Islam pada hari Kamis, tanggal 17 Februari 2019. Program ini lebih dari sekedar sebuah tour sehingga lebih tepat dinamakan adventure. Mengapa? Alasan pertama, siswa harus melakukan perjalanan secara berkelompok bukan satu kelas. Setiap kelompok berisikan lima siswa. Setiap kelompok menunjuk seorang ketua yang bertanggung jawab terhadap perjalanan kelompok. Perjalanan dilakukan tanpa pendamping seorang guru. Masing – masing siswa membawa perlengkapan pribadi yang dicek di pos, seperti air minum, kaos, makan siang, dan alat tulis.

Kedua, setiap kelompok harus menyelesaikan seluruh target yang sudah ditentukan. Target tersebut diberikan kepada siswa dengan sebuah klu berupa gambar lokasi. Ada empat target tempat yang harus didatangi oleh setiap kelompok, yaitu Museum Pendidikan UNY, Museum Jendral Soedirman, dan Benteng vredeberg. Di setiap pos target, setiap kelompok harus menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru pendamping. Tugas tersebut berhubungan dengan lokasi target. Seluruh tugas dituliskan ke dalam handbook perjalanan. Sebagai tanda bukti bahwa target sudah terselesaikan, setiap kelompok diharuskan untuk mengambil gambar bersama. Masing – masing kelompok membawa satu buah kamera pribadi untuk mendokumentasikan hal atau peristiwa yang dijumpai selama perjalanan.

Alasan ketiga adalah setiap kelompok harus menggunakan moda transportasi umum berupa trans-Jogja. Bukan bus pariwisata yang disewa dalam waktu tertentu ataupun transportasi online yang mudah digapai hanya dengan aplikasi dari smartphone. Untuk menuju ke target tujuan, setiap kelompok mendapatkan rute trayek trans-Jogja yang berbeda. Terminal Jombor dijadikan sebagai titik pemberangkatan dan Masjid Sokogeneng, Nogotirto sebagai titik akhir perjalanan. Mereka harus menuju shelter trans – Jogja sesuai dengan rute yang harus ditempuh. Mereka tidak boleh salah masuk shelter karena salah masuk dan salah pesan akan salah tujuan juga. Setelah menemukan shelter, mereka harus membeli tiket sendiri dan menunggu hingga bus datang. Tantangan belum usai kskjnklyang diberikan yang tentunya tidak tepat berada di dekat shelter.
Alasan terakhir mengapa kegiatan ini lebih tepat disebut dengan city adventure adalah penggunaan telepon genggam klasik. Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk membawa telepon genggam klasik yang hanya dapat digunakan untuk mengirimkan pesan pendek dan panggilan. Alat tersebut dapat mereka gunakan untuk berkomunikasi dengan pendamping jika dalam perjalanan menemui hambatan.

(T_T)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *