SALYo : Sekolah Alam Lanjutan Yogyakarta

Muqaddimah
Perspektif yang Tepat bagi Siswa
Tuesday, 12 May 2009

 

Siswa Diajak untuk Melihat Setiap Mata Pelajaran dengan Perspektif yang Tepat

 Active Image

Perhatikan perkataan seorang matematikawan I. M. Gelfand (Diambil dari buku The Unity of Mathematics, oleh Etingof, dkk. (editor) Birkhaeuser, 2006) :

“ … Let us begin with the last question: What is mathematics? From my point of view, mathematics is a part of our culture, like music, poetry and philosophy. I talked about this in my lecture at the conference. There, I have mentioned the closeness between the style of mathematics and the style of classical music or poetry. I was happy to find the following four common features: first, beauty; second, simplicity; third, exactness; fourth, crazy ideas. The combination of these four things: beauty, exactness, simplicity, and crazy ideas is just the heart of mathematics, … .”

Dari petikan di atas jelas bagi kita bahwa, dalam pandangan (persepsi) seorang matematikawan, matematika memiliki paling tidak empat fitur sebagaimana yang juga dimiliki oleh musik klasik maupun puisi, yakni bahwa matematika adalah sesuatu yang indah, matematika sesuatu yang sederhana (simpel), matematika adalah sesuatu yang pasti (eksak), dan matematika adalah sesuatu yang terkait dengan gagasan-gagasan “gila”.

Mengapa para matematikawan menyenangi matematika? Jawabannya : karena persepsi mereka tentang matematika. Mereka melihat matematika dengan perspektif yang tepat. Karenanya, mereka mengenal ”ruh” (sepirit) matematika. Mereka melihat matematika sebagai the way of thinking. Karena para matematikawan melihat keindahan, kesederhanaan, kepastian dan ’kegilaan’ matematika, maka mereka menyenangi matematika.

Jika saja para siswa mampu melihat matematika sebagaimana para matematikawan melihat matematika maka para siswa tentu akan menyenangi matematika dan menyikapi pelajaran matematika dengan antusiasme sebagai pelajaran yang menantang, menyenangkan, bermanfaat, dan lain sebagainya. Kenyataannya, persepsi yang dimiliki oleh para siswa tentang matematika bergantung pada persepsi yang dimiliki oleh guru. Oleh karena itu, tugas guru-guru matematika pertama-tama adalah meluruskan persepsi mereka sendiri tentang matematika dan selanjutnya membawa siswa-siswa mereka pada perspektif yang tepat tentang matematika, yakni agar para siswa melihat matematika sebagaimana yang dilihat oleh para matematikawan.

Persepsi tentang matematika yang dimiliki oleh para guru juga sangat berpengaruh pada cara pembelajaran/pengajaran matematika. Cara mengajar matematika oleh para guru ternyata lebih ditentukan oleh persepsi mereka tentang matematika daripada oleh keyakinan mereka akan cara mengajar yang paling baik.

Hal tersebut di atas tidak hanya berlaku pada pelajaran matematika. Para siswa perlu memiliki persepsi yang tepat tentang semua mata pelajaran. Mereka harus melihat setiap mata pelajaran itu sebagaimana pakar-pakar terkait melihat bidang-bindang kepakarannya masing-masing.

 

Last Updated ( Friday, 22 May 2009 )
 
Pilih Sekolah yang Bermutu atau yang Favorit ?
Monday, 12 January 2009

 

Adakah sekolah bermutu atau bertaraf internasional? Rasanya sulit untuk menemukannya. Namun, jika yang ditanyakan adalah keberadaan sekolah favorit atau sekolah berstatus internasional,   maka jawabnya : banyak ... bahkan banyak sekali.

 

Sekolah bermutu sudah selayaknya menjadi sekolah favorit. Tetapi, jika dicermati lebih jauh, tidak setiap sekolah favorit merupakan sekolah bermutu. Mengapa demikian? Biasanya, sebuah sekolah ditahbiskan sebagai sekolah favorit oleh masyarakat atas pertimbangan tingginya nilai ujian nasioanl yang dicapai oleh para lulusannya. Semakin tinggi capaian nilai rata-rata ujian nasional suatu sekolah maka semakin tinggi derajat ke-favorit-an sekolah itu. Tetapi, sejatinya tidak cukup alasan untuk mengatakan bahwa SEMUA sekolah favorit tersebut bermutu. Pertama, telah menjadi rahasia umum bahwa masukan sekolah-sekolah favorit merupakan anak-anak pandai dari berbagai tempat. Anak-anak pandai biasanya adalah anak-anak cerdas yang bermotivasi tinggi. Untuk membawa anak-anak semacam itu mencapai nilai ujian nasional yang tinggi bukanlah pekerjaan berat –seperti air layaknya, tinggal mengalir begitu saja. Kedua, banyaknya lembaga-lembaga bimbingan test yang menawarkan bimbingan dalam menghadapi berbagai event ujian dan kenyataan bahwa kebanyakan siswa kita (termasuk yang belajar di sekolah-sekolah favorit) adalah pelanggan bimbingan-bimbingan test itu. Jadi, pertanyaannya, apakah tingginya nilai ujian nasional para siswa semata-mata sebagai hasil proses pembelajaran di sekolah favorit itu ataukah lebih disebabkan oleh sentuhan para tentor di bimbingan-bimbingan test itu? Berikut adalah „Gedanken Experiment“ untuk menguji apakah tingginya nilai ujian nasional lulusan suatu sekolah favorit merupakan akibat tingginya mutu pembelajaran di sekolah favorit itu atau akibat tingginya kemampuan siswa-siswa dan faktor-faktor eksternal yang lain :  Sekali-kali sekolah-sekolah favorit itu menerima anak-anak lapis menengah (atau bahkan, kalau berani, anak-anak lapis paling rendah) sebagai siswa-siswa barunya. Kemudian biarkan mereka mengikuti proses pembelajaran apa adanya di sekolah-selolah favorit itu. Jangan ijinkan mereka ikut bimbingan test. Lalu, kita lihat sampai masa sekolah mereka berakhir dengan ujian nasional. Dari capaian nilai „siswa-siswa percobaan itu“ pada ujian nasional dapat disimpulkan apakah sekolah favorit itu memang mampu memberi nilai tambah bagi siswa-siswanya ataukah tidak.

Sekolah macam apa yang sebaiknya dicari oleh para orang tua bagi anak-anaknya? Jawabnya : SEKOLAH BERMUTU, yakni sekolah yang mampu memberi nilai tambah bagi anak-anaknya.

 

Last Updated ( Friday, 22 May 2009 )
 
 

Polling

Bagaimana menurutmu sekolah di Alam Terbuka ?
 

Pengunjung