ANDAI AKU MENJADI … (Live In 2019 di Dukuh Klepu)

“Pengalaman baru, suasana baru, tahu lebih banyak budaya baru. Aku bisa lebih bersyukur di sini (Klepu_red) masih ada orang-orang yang kebutuhannya masih kurang, sedangkan aku di rumah masih banyak mengeluh, banyak maunya. Di sini, air masih mengandalkan air hujan sementara di sini jarang hujan. Hawanya panas.”
“Banyak pelajaran yang bisa diambil di sini, salah satunya adalah menghormati yang lebih tua. Hidup sederhana juga menjadi pelajaran bagi aku. Merasakan orang berjuang keras untuk menghidupi keluarga. Rasa senang, bahagia ada. Rasa menjadi lebih semangat untuk hidup di dunia ini. Semoga ini dapat menjadi pelajaran sampai kapanpun. Kegiatannya mantap, terus diadakan biar angkatan 9 kompak.”
Demikian kesan yang disampaikan oleh Raka, siswa kelas VIIIA dan Ahsan, siswa kelas VIIIB setelah mengikuti program Live In.

Live In adalah program tahunan SMPIT Alam Nurul Islam yang diadakan untuk mengembangkan sikap kemandirian siswa; menumbuhkan sikap simpati, empati, peduli, dan jiwa sosial siswa. Selain itu, Live In juga bertujuan untuk memberikan wadah bagi siswa untuk mengembangkan social skill yang dimiliki. Live In adalah kata lain untuk program tahun sebelumnya, Homestay yang diganti namanya untuk lebih mendekati dengan tujuan akhir program. Sebelum mengikuti Live In, siswa telah mendapatkan ilmu teori dan praktek ketrampilan dalam mata pelajaran Sekolah Alam seperti memasak, mencuci, dan lain sebagainya.

Tahun ini, kegiatan Live In diadakan di Dukuh Klepu, Desa Giriwungu, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Live in dilaksanakan selama 4 hari 3 malam, mulai hari Jum’at – Senin, tanggal 22 – 25 Februari 2019. Hari pertama adalah hari penerjunan dan adaptasi. Pada hari ini siswa berangkat ke lokasi bersama-sama menggunakan bus. Siswa dibagi dalam kelompok kecil beranggotakan dua siswa. Mereka membawa bahan makanan mentah dan pakaian yang dibatasi jumlahnya. Setelah mengikuti acara penyerahan, masing-masing kelompok mencari rumah dengan bantuan selembar peta buta beserta nama induk semang mereka. Sesampainya di rumah, mereka harus meminta ijin untuk tinggal menetap beberapa hari kepada induk semang. Selanjutnya mereka mengikuti kegiatan sore hingga malam bersama induk semang.

Hari kedua adalah hari bersama induk semang. Masing – masing siswa mengikuti kegiatan sehari – hari induk semang. Mereka membantu memasak masakan induk semang, mencuci pakaian mereka sendiri, menyapu rumah dan halaman, pergi ke ladang induk semang untuk mencari rumput atau panen, memberi pakan hewan ternak, dan lain sebaginya. Sawah tumpangsari milik warga sudah dipanen. Siswa pun turut membantu memanen, menguliti kacang, dan merontokkan biji jagung. Di sore harinya, tim TPA mengajarkan anak – anak di bawah usia 12 tahun mengaji Al-Quran. Sedangkan malam harinya, tim Bimbel (Bimbingan Belajar_red) menemani anak – anak sekitar belajar maupun mengerjakan PR dari sekolah.

Hari ketiganya adalah hari pengkaryaan. Selepas sholat Shubuh berjama’ah di masjid Amaliah, seluruh siswa datang ke balai Dukuh untuk menyiapkan keperluan acara. Hari ini seluruh tim menunjukkan aksinya. Tim TPA dan tim Bimbel mengadakan Festival Anak Muslim (FAM) dengan menawarkan berbagai acara menarik seperti dongeng oleh Rizky, lomba mewarnai, lomba menggambar, lomba Cerdas Cermat Umum, dan nonton film bareng yang dipandu oleh MC kocak, Rusdan dan Calvin. Sementara tim Bazar menggelar pakaian pantas pakai yang telah mereka kumpulkan dari sekolah di atas stand – stand pakaian berdasarkan harga mulai dari Rp 1000 – 2000. Selain itu, tim Bazar juga menawarkan stand jilbab dan mukena gratis untuk warga. Pada sore harinya, tim Outbound pun mengadakan permainan dalam beberapa pos. Seluruh kegiatan hari ini dipersiapkan, dikelola, dan dijalankan oleh seluruh siswa sesuai dengan timnya

Program Live In selesai pada hari ke-empat diakhiri dengan acara pamitan oleh siswa di rumah masing-masing dilanjutkan acara penarikan oleh kepala sekolah dan diikuti oleh perangkat dukuh beserta warga. Suasana haru pun nampak saat acara perpisahan tersebut, bahkan tak sedikit warga yang menangis demi melepas kepergian anak (asuh) mereka. Semua kejadian terekam dalam handbook siswa yang mereka isi setiap harinya selama mengikuti program lengkap dengan foto bersama keluarga dan nomor telepon orang tua/induk semang. (T_T)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *